GELIAT PASCA LEARNING LOSS COVID 19 DI KAKI RINJANI
“Bu Guru!...” suara itu membuatku menoleh ke belakang dan menyambut dengan senyum untaian tangan mungil yang segera mengenggam tanganku erat dan menciumnya sambil meletakknnya diatas ubun-ubun kepalanya. “Mana teman-temanmu yang lain?” tanyaku singkat. “Itu di bawah pohon beringin sedang bermain, tapi Faisal, Runa, Nadira dan Alfin tidak masuk. “Ada apa dengan mereka mengapa tidak ke sekolah?” tanyaku kembali. “ Entahlah bu, temanku Alfin berangkat dari rumah berseragam sekolah kata ibunya, tapi aku tak melihatnya sejak tadi pagi, mungkin masih bermain game di rumah si Satirah” jawab Fajrul si ketua kelas. “waduh, kamu tidak menegur dan mengajakknya ke sekolah? Tanyaku kembali. “ Sudah bu, tapi dia bilang aku bosan harus menunggu ship masuk dan belajarnyapun paling sebentar lalu pulang, jadi mendingan aku main game online saja lebih seru kataya bu”. Kecut rasanya cerita yang kudapat pagi ini. ”Terima kasih atas informasinya, kamu bisa kembali bermain bersama teman-temanmu. “O, ya karena pagi ini ibu dan bapak gurumu akan rapat dan kalianpun sudah bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah maka setengah jam lagi kalian semua akan dipulangkan” arahku sambil melemparkan senyum padanya. “Horeee…pagi pulang teriaknya kegirangan” sambil berlari membawa berita gembira ke arah teman-temannya. Aku melanjutkan langkahku menuju ruang guru.
Sambil
melangkahkan kaki aku sedikit mengingat ke belakang, ketika Pandemi Covid 19 memasuki
pulau Lombok pada pertengahan tahun 2020 lalu membuat anak-anak praktis tidak belajar.
Banyak sekolah ditutup, sehingga anak-anak tidak dapat bersekolah sampai waktu
yang tidak jelas. Mereka tidak diizinkan keluar dengan bebas, bepergian jauh
untuk menghindari kontak pisik dengan orang luar, menjauhi kerumunan serta
selalu memakai masker guna melindungi mereka dari penyebaran virus corona.
Terlalu
lama beraktivitas di rumah membuat
mereka enggan keluar dan malas bergerak. Di rumah mereka hanya makan minum,
tiduran, nonton televisi dan bermain game
dengan gawai. Rata-rata orang tua berupaya mengontrol dan membatasi penggunaaan
gawai, namun saat digunakan belajar oleh anak, para orang tua tentu saja
memberikan keleluasaan. Momentum ini digunakan sebagian besar siswa untuk
mengunduh aplikasi game, tiktok dan bermedia
sosial tampa terkontrol. Sementara orang tua menganggap anak-anaknya sedang
belajar. Kondisi ini membuat anak-anak semakin
asyik terlena dengan gawainya, terus bermain game online dan berselancar ke dunia maya. Lambat laun rutinitas
mengasyikkan ini menjadi candu bagi anak.
Pagi
ini aku bertanya pada Rio dan beberapa anak lainnya, mengapa ia tidak pernah
mengikuti pembelajaran dengan daring, ia berkata “Aku tak punya HP bu” Kondisi
ini tentu saja membuatku berpikir. Apakah yang harus kulakukan untuk
membelajarkan mereka. Walaupun hanya 4 orang, mereka berhak untuk belajar
seperti yang lainnya di masa pandemi covid 19 ini. Akhirnya aku memutuskan
untuk membimbing mereka secara berkelompok. Aku tak mungkin mengelompokkan
mereka hanya dengan sesama anak yang tidak memeliki gawai saja karena bagiku
itu akan membuat mereka merasa berkecil hati. Aku buat kelas 5 menjadi 4
kelompok kecil berdasarkan tempat domisili terdekat mereka, aku baurkan mereka
sehingga bisa belajar bersama dengan gawai temannya. Dengan berkelompok kecil aku
bisa mengunjungi mereka secara berkeliling setiap hari tampa melanggar protocol
kesehatan. Sementara pembelajaran dengan daringpun bisa tetap kulanjutkan.
Sepotong
papan putih melamin, kubawa setiap pagi berkeliling ditiap kelompok yang telah
kubentuk. Kadang kami belajar di teras rumah, teras tempat ibadah, ruang tamu,
halaman bahkan dekat kandang hewan ternak. Kerap kali aku terbatuk-batuk sambil
menjelaskan karena menyengatnya aroma tembakau kering yang disimpan di ruang
tamu. Disitu kami belajar berproses berjuang mempertahankan pembelajaran tetap
berlangsung walaupun virus mengintai dimana-mana.
Aku
pernah mendengar beberapa teman di desa seberang mendapat penolakan dari warga
saat berkunjung, orang tua khawatir kami yang datang dari luar desa membawa
virus ke desa mereka. Begitu banyak tantangan pendidikan kami hadapi. Namun aku
sangat bersyukur walaupun dalam kondisi terbatas, serba tidak kondusif
setidaknya setiap wali murid yang aku kunjungi menerimaku dengan tangan terbuka
bahkan setiap mengajar mereka menyuguhiku secangkir teh hangat dan makanan
ringan.
Pembelajaran
tetap dapat terlaksana dengan berbagai kendala yang ada, namun sepertinya aku
tidak bisa berharap lebih dari proses yang serba terbatas ini, hasil belajar
anak-anak masih saja tidak memuaskanku. Aku sedih, sebagai seorang guru aku
merasa gagal, namun bagaimana caraku untuk mengembalikan muridku seperti dulu.
Aku merindukan semangat dan kebersamaan yang hangat setiap momentum belajar
bersama mereka, tapi pandemi Covid 19 menghalangi kebersamaan kami.
Pandemi
terus terjadi, pembelajaran tatap muka terbatas mulai diterapkan. Dan saat ini
aku tertegun. Dalam sehari terkadang 5 sampai 6 siswa tidak masuk sekolah, 2
anak bahkan pernah sampai 3 orang membolos pulang lebih cepat karena main
bareng game online. Siswa yang
masukpun terkesan tidak betah disekolah, “Bu guru kapan pulang?”, “Bu guru
cepatan sudah lapar nih.” Dan berbagai alasan yang kerapkali kudengar yang
menunjukkan betapa bosannya mereka belajar di sekolah. Aku bingung, dalam
benakku aku bertanya apa yang terjadi dengan murid-muridku selama pandemi?
Inikah yang disebut mas mentri dengan learning
loss?
Learning loss (kehilangan
pembelajaran) merujuk pada sebuah kondisi hilangnya sebagian pengetahuan dan
keterampilan dalam perkembangan akademis yang biasanya diakibatkan oleh
terhentinya proses pembelajaran dalam dunia pendidikan. Akibatnya bukan hanya
hilangnya pengetahuan dan keterampilan anak namun pembiasaan yang telah lama
dibangun dan dididikkan di sekolah menjadi hilang. Disiplin anak berkurang, aktivitas
pembelajaran menurun bahkan motivasi belajar mereka menurun drastis.
Naluri
keguruanku tidak akan membiarkan hal itu terus terjadi, Kubangun komunikasi
dengan wali murid agar membatasi putra putrinya memegang gawai. Mereka
menyambut baik langkahku, bahkan mereka sangat berterima kasih karena mereka
merasa kewalahan menhadapi anak-anak mereka yang sudah kecanduan gawai dan game online.
Aku
berupaya menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan banyak
permainan, lagu, tepuk, di alam terbuka, berkelompok dan menantang. Keahlian
yang kumiliki sebagai pelatih dan pembina pramuka benar-benar sangat membantuku
menuntaskan persoalan yang kuhadapi.
Kedispilnan
anak mulai kuperketat, mereka bisa terkena sangsi tegas bila tak mengerjakan
tugas, bolos ataupun tidak masuk tampa keterangan. Dulunya aku hanya memberi
sangsi dengan melafalkan istigfar 50 sampai 100x sambil berdiri di teras kelas,
kali ini kutambah dengan berjemur di lapangan dan membersihkan kamar mandi
sekolah. Semua hal yang kukerjakan ku komunikasikan dengan wali murid bahkan
mereka menyambut baik karena mereka juga merasa prihatin dengan kebiasaan anak
yang sulit sekali dikontrol saat memegang gaawai.
Ide
dengan menerapkan metode yang kerap kali digunakan dalam kepramukaan aku gunakan
setiap hari sehingga kelasku menjadi lebih hidup kembali, anak-anak bersemangat
angka ketidak hadiran mulai bisa kuminimalisir dan hasil belajar merekapun
secara bertahap meningkat sedikit demi sedikit. Aku senang sebagian dari kerja
kerasku mulai menampakkan hasil. Geliat perjuanganku di kaki Rinjani akan terus
mewarnai hari-hariku.
Cuaca
dingin tak akan menghalangi langkah-langkah kecil siswaku untuk berlari dengan
gembira menuju sekolah. Mereka adalah alasanku untuk tetap bersemangat mencari
cara yang membuat mereka betah bersamaku di sekolah, senang belajar dan mau
bekerja keras menggapai cita-cita mereka demi masa depan mereka kelak.
“Teruslah bergerak maju nak, gapailah bintang gemintang dilangit biru dengan
tangan-tangan mungil kalian. Gurumu akan selalu menunggu dan berharap tentang
berita gembira kesuksesanmu”.
Lombok
Timur, 31 Mei 2022.
Asrol Uyuni
“Bu Guru!...” suara itu membuatku menoleh ke
belakang dan menyambut dengan senyum untaian tangan mungil yang segera
mengenggam tanganku erat dan menciumnya sambil meletakknnya diatas ubun-ubun
kepalanya. “Mana teman-temanmu yang lain?” tanyaku singkat. “Itu di bawah pohon
beringin sedang bermain, tapi Faisal, Runa, Nadira dan Alfin tidak masuk. “Ada
apa dengan mereka mengapa tidak ke sekolah?” tanyaku kembali. “ Entahlah bu, temanku
Alfin berangkat dari rumah berseragam sekolah kata ibunya, tapi aku tak
melihatnya sejak tadi pagi, mungkin masih bermain game di rumah si Satirah” jawab Fajrul si ketua kelas. “waduh, kamu
tidak menegur dan mengajakknya ke sekolah? Tanyaku kembali. “ Sudah bu, tapi
dia bilang aku bosan harus menunggu ship
masuk dan belajarnyapun paling sebentar lalu pulang, jadi mendingan aku main game online saja lebih seru kataya bu”. Kecut
rasanya cerita yang kudapat pagi ini. ”Terima kasih atas informasinya, kamu
bisa kembali bermain bersama teman-temanmu. “O, ya karena pagi ini ibu dan
bapak gurumu akan rapat dan kalianpun sudah bergotong royong membersihkan
lingkungan sekolah maka setengah jam lagi kalian semua akan dipulangkan” arahku
sambil melemparkan senyum padanya. “Horeee…pagi pulang teriaknya kegirangan”
sambil berlari membawa berita gembira ke arah teman-temannya. Aku melanjutkan
langkahku menuju ruang guru.
Sambil
melangkahkan kaki aku sedikit mengingat ke belakang, ketika Pandemi Covid 19 memasuki
pulau Lombok pada pertengahan tahun 2020 lalu membuat anak-anak praktis tidak belajar.
Banyak sekolah ditutup, sehingga anak-anak tidak dapat bersekolah sampai waktu
yang tidak jelas. Mereka tidak diizinkan keluar dengan bebas, bepergian jauh
untuk menghindari kontak pisik dengan orang luar, menjauhi kerumunan serta
selalu memakai masker guna melindungi mereka dari penyebaran virus corona.
Terlalu
lama beraktivitas di rumah membuat
mereka enggan keluar dan malas bergerak. Di rumah mereka hanya makan minum,
tiduran, nonton televisi dan bermain game
dengan gawai. Rata-rata orang tua berupaya mengontrol dan membatasi penggunaaan
gawai, namun saat digunakan belajar oleh anak, para orang tua tentu saja
memberikan keleluasaan. Momentum ini digunakan sebagian besar siswa untuk
mengunduh aplikasi game, tiktok dan bermedia
sosial tampa terkontrol. Sementara orang tua menganggap anak-anaknya sedang
belajar. Kondisi ini membuat anak-anak semakin
asyik terlena dengan gawainya, terus bermain game online dan berselancar ke dunia maya. Lambat laun rutinitas
mengasyikkan ini menjadi candu bagi anak.
Pagi
ini aku bertanya pada Rio dan beberapa anak lainnya, mengapa ia tidak pernah
mengikuti pembelajaran dengan daring, ia berkata “Aku tak punya HP bu” Kondisi
ini tentu saja membuatku berpikir. Apakah yang harus kulakukan untuk
membelajarkan mereka. Walaupun hanya 4 orang, mereka berhak untuk belajar
seperti yang lainnya di masa pandemi covid 19 ini. Akhirnya aku memutuskan
untuk membimbing mereka secara berkelompok. Aku tak mungkin mengelompokkan
mereka hanya dengan sesama anak yang tidak memeliki gawai saja karena bagiku
itu akan membuat mereka merasa berkecil hati. Aku buat kelas 5 menjadi 4
kelompok kecil berdasarkan tempat domisili terdekat mereka, aku baurkan mereka
sehingga bisa belajar bersama dengan gawai temannya. Dengan berkelompok kecil aku
bisa mengunjungi mereka secara berkeliling setiap hari tampa melanggar protocol
kesehatan. Sementara pembelajaran dengan daringpun bisa tetap kulanjutkan.
Sepotong
papan putih melamin, kubawa setiap pagi berkeliling ditiap kelompok yang telah
kubentuk. Kadang kami belajar di teras rumah, teras tempat ibadah, ruang tamu,
halaman bahkan dekat kandang hewan ternak. Kerap kali aku terbatuk-batuk sambil
menjelaskan karena menyengatnya aroma tembakau kering yang disimpan di ruang
tamu. Disitu kami belajar berproses berjuang mempertahankan pembelajaran tetap
berlangsung walaupun virus mengintai dimana-mana.
Aku
pernah mendengar beberapa teman di desa seberang mendapat penolakan dari warga
saat berkunjung, orang tua khawatir kami yang datang dari luar desa membawa
virus ke desa mereka. Begitu banyak tantangan pendidikan kami hadapi. Namun aku
sangat bersyukur walaupun dalam kondisi terbatas, serba tidak kondusif
setidaknya setiap wali murid yang aku kunjungi menerimaku dengan tangan terbuka
bahkan setiap mengajar mereka menyuguhiku secangkir teh hangat dan makanan
ringan.
Pembelajaran
tetap dapat terlaksana dengan berbagai kendala yang ada, namun sepertinya aku
tidak bisa berharap lebih dari proses yang serba terbatas ini, hasil belajar
anak-anak masih saja tidak memuaskanku. Aku sedih, sebagai seorang guru aku
merasa gagal, namun bagaimana caraku untuk mengembalikan muridku seperti dulu.
Aku merindukan semangat dan kebersamaan yang hangat setiap momentum belajar
bersama mereka, tapi pandemi Covid 19 menghalangi kebersamaan kami.
Pandemi
terus terjadi, pembelajaran tatap muka terbatas mulai diterapkan. Dan saat ini
aku tertegun. Dalam sehari terkadang 5 sampai 6 siswa tidak masuk sekolah, 2
anak bahkan pernah sampai 3 orang membolos pulang lebih cepat karena main
bareng game online. Siswa yang
masukpun terkesan tidak betah disekolah, “Bu guru kapan pulang?”, “Bu guru
cepatan sudah lapar nih.” Dan berbagai alasan yang kerapkali kudengar yang
menunjukkan betapa bosannya mereka belajar di sekolah. Aku bingung, dalam
benakku aku bertanya apa yang terjadi dengan murid-muridku selama pandemi?
Inikah yang disebut mas mentri dengan learning
loss?
Learning loss (kehilangan
pembelajaran) merujuk pada sebuah kondisi hilangnya sebagian pengetahuan dan
keterampilan dalam perkembangan akademis yang biasanya diakibatkan oleh
terhentinya proses pembelajaran dalam dunia pendidikan. Akibatnya bukan hanya
hilangnya pengetahuan dan keterampilan anak namun pembiasaan yang telah lama
dibangun dan dididikkan di sekolah menjadi hilang. Disiplin anak berkurang, aktivitas
pembelajaran menurun bahkan motivasi belajar mereka menurun drastis.
Naluri
keguruanku tidak akan membiarkan hal itu terus terjadi, Kubangun komunikasi
dengan wali murid agar membatasi putra putrinya memegang gawai. Mereka
menyambut baik langkahku, bahkan mereka sangat berterima kasih karena mereka
merasa kewalahan menhadapi anak-anak mereka yang sudah kecanduan gawai dan game online.
Aku
berupaya menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan banyak
permainan, lagu, tepuk, di alam terbuka, berkelompok dan menantang. Keahlian
yang kumiliki sebagai pelatih dan pembina pramuka benar-benar sangat membantuku
menuntaskan persoalan yang kuhadapi.
Kedispilnan
anak mulai kuperketat, mereka bisa terkena sangsi tegas bila tak mengerjakan
tugas, bolos ataupun tidak masuk tampa keterangan. Dulunya aku hanya memberi
sangsi dengan melafalkan istigfar 50 sampai 100x sambil berdiri di teras kelas,
kali ini kutambah dengan berjemur di lapangan dan membersihkan kamar mandi
sekolah. Semua hal yang kukerjakan ku komunikasikan dengan wali murid bahkan
mereka menyambut baik karena mereka juga merasa prihatin dengan kebiasaan anak
yang sulit sekali dikontrol saat memegang gaawai.
Ide
dengan menerapkan metode yang kerap kali digunakan dalam kepramukaan aku gunakan
setiap hari sehingga kelasku menjadi lebih hidup kembali, anak-anak bersemangat
angka ketidak hadiran mulai bisa kuminimalisir dan hasil belajar merekapun
secara bertahap meningkat sedikit demi sedikit. Aku senang sebagian dari kerja
kerasku mulai menampakkan hasil. Geliat perjuanganku di kaki Rinjani akan terus
mewarnai hari-hariku.
Cuaca
dingin tak akan menghalangi langkah-langkah kecil siswaku untuk berlari dengan
gembira menuju sekolah. Mereka adalah alasanku untuk tetap bersemangat mencari
cara yang membuat mereka betah bersamaku di sekolah, senang belajar dan mau
bekerja keras menggapai cita-cita mereka demi masa depan mereka kelak.
“Teruslah bergerak maju nak, gapailah bintang gemintang dilangit biru dengan
tangan-tangan mungil kalian. Gurumu akan selalu menunggu dan berharap tentang
berita gembira kesuksesanmu”.
Lombok
Timur, 31 Mei 2022.
Asrol Uyuni

Tidak ada komentar:
Posting Komentar