31 Mei 2022

 GELIAT PASCA LEARNING LOSS COVID 19 DI KAKI RINJANI



 “Bu Guru!...” suara itu membuatku menoleh ke belakang dan menyambut dengan senyum untaian tangan mungil yang segera mengenggam tanganku erat dan menciumnya sambil meletakknnya diatas ubun-ubun kepalanya. “Mana teman-temanmu yang lain?” tanyaku singkat. “Itu di bawah pohon beringin sedang bermain, tapi Faisal, Runa, Nadira dan Alfin tidak masuk. “Ada apa dengan mereka mengapa tidak ke sekolah?” tanyaku kembali. “ Entahlah bu, temanku Alfin berangkat dari rumah berseragam sekolah kata ibunya, tapi aku tak melihatnya sejak tadi pagi, mungkin masih bermain game di rumah si Satirah” jawab Fajrul si ketua kelas. “waduh, kamu tidak menegur dan mengajakknya ke sekolah? Tanyaku kembali. “ Sudah bu, tapi dia bilang aku bosan harus menunggu ship masuk dan belajarnyapun paling sebentar lalu pulang, jadi mendingan aku main game online saja lebih seru kataya bu”. Kecut rasanya cerita yang kudapat pagi ini. ”Terima kasih atas informasinya, kamu bisa kembali bermain bersama teman-temanmu. “O, ya karena pagi ini ibu dan bapak gurumu akan rapat dan kalianpun sudah bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah maka setengah jam lagi kalian semua akan dipulangkan” arahku sambil melemparkan senyum padanya. “Horeee…pagi pulang teriaknya kegirangan” sambil berlari membawa berita gembira ke arah teman-temannya. Aku melanjutkan langkahku menuju ruang guru.

Sambil melangkahkan kaki aku sedikit mengingat ke belakang, ketika Pandemi Covid 19 memasuki pulau Lombok pada pertengahan tahun 2020 lalu membuat anak-anak praktis tidak belajar. Banyak sekolah ditutup, sehingga anak-anak tidak dapat bersekolah sampai waktu yang tidak jelas. Mereka tidak diizinkan keluar dengan bebas, bepergian jauh untuk menghindari kontak pisik dengan orang luar, menjauhi kerumunan serta selalu memakai masker guna melindungi mereka dari penyebaran virus corona.

Terlalu lama  beraktivitas di rumah membuat mereka enggan keluar dan malas bergerak. Di rumah mereka hanya makan minum, tiduran, nonton televisi dan bermain game dengan gawai. Rata-rata orang tua berupaya mengontrol dan membatasi penggunaaan gawai, namun saat digunakan belajar oleh anak, para orang tua tentu saja memberikan keleluasaan. Momentum ini digunakan sebagian besar siswa untuk mengunduh aplikasi game, tiktok dan bermedia sosial tampa terkontrol. Sementara orang tua menganggap anak-anaknya sedang belajar.  Kondisi ini membuat anak-anak semakin asyik terlena dengan gawainya, terus bermain game online dan berselancar ke dunia maya. Lambat laun rutinitas mengasyikkan ini menjadi candu bagi anak.

Pagi ini aku bertanya pada Rio dan beberapa anak lainnya, mengapa ia tidak pernah mengikuti pembelajaran dengan daring, ia berkata “Aku tak punya HP bu” Kondisi ini tentu saja membuatku berpikir. Apakah yang harus kulakukan untuk membelajarkan mereka. Walaupun hanya 4 orang, mereka berhak untuk belajar seperti yang lainnya di masa pandemi covid 19 ini. Akhirnya aku memutuskan untuk membimbing mereka secara berkelompok. Aku tak mungkin mengelompokkan mereka hanya dengan sesama anak yang tidak memeliki gawai saja karena bagiku itu akan membuat mereka merasa berkecil hati. Aku buat kelas 5 menjadi 4 kelompok kecil berdasarkan tempat domisili terdekat mereka, aku baurkan mereka sehingga bisa belajar bersama dengan gawai temannya. Dengan berkelompok kecil aku bisa mengunjungi mereka secara berkeliling setiap hari tampa melanggar protocol kesehatan. Sementara pembelajaran dengan daringpun bisa tetap kulanjutkan.

Sepotong papan putih melamin, kubawa setiap pagi berkeliling ditiap kelompok yang telah kubentuk. Kadang kami belajar di teras rumah, teras tempat ibadah, ruang tamu, halaman bahkan dekat kandang hewan ternak. Kerap kali aku terbatuk-batuk sambil menjelaskan karena menyengatnya aroma tembakau kering yang disimpan di ruang tamu. Disitu kami belajar berproses berjuang mempertahankan pembelajaran tetap berlangsung walaupun virus mengintai dimana-mana.

Aku pernah mendengar beberapa teman di desa seberang mendapat penolakan dari warga saat berkunjung, orang tua khawatir kami yang datang dari luar desa membawa virus ke desa mereka. Begitu banyak tantangan pendidikan kami hadapi. Namun aku sangat bersyukur walaupun dalam kondisi terbatas, serba tidak kondusif setidaknya setiap wali murid yang aku kunjungi menerimaku dengan tangan terbuka bahkan setiap mengajar mereka menyuguhiku secangkir teh hangat dan makanan ringan.

Pembelajaran tetap dapat terlaksana dengan berbagai kendala yang ada, namun sepertinya aku tidak bisa berharap lebih dari proses yang serba terbatas ini, hasil belajar anak-anak masih saja tidak memuaskanku. Aku sedih, sebagai seorang guru aku merasa gagal, namun bagaimana caraku untuk mengembalikan muridku seperti dulu. Aku merindukan semangat dan kebersamaan yang hangat setiap momentum belajar bersama mereka, tapi pandemi Covid 19 menghalangi kebersamaan kami.

Pandemi terus terjadi, pembelajaran tatap muka terbatas mulai diterapkan. Dan saat ini aku tertegun. Dalam sehari terkadang 5 sampai 6 siswa tidak masuk sekolah, 2 anak bahkan pernah sampai 3 orang membolos pulang lebih cepat karena main bareng game online. Siswa yang masukpun terkesan tidak betah disekolah, “Bu guru kapan pulang?”, “Bu guru cepatan sudah lapar nih.” Dan berbagai alasan yang kerapkali kudengar yang menunjukkan betapa bosannya mereka belajar di sekolah. Aku bingung, dalam benakku aku bertanya apa yang terjadi dengan murid-muridku selama pandemi? Inikah yang disebut mas mentri dengan learning loss?

Learning loss (kehilangan pembelajaran) merujuk pada sebuah kondisi hilangnya sebagian pengetahuan dan keterampilan dalam perkembangan akademis yang biasanya diakibatkan oleh terhentinya proses pembelajaran dalam dunia pendidikan. Akibatnya bukan hanya hilangnya pengetahuan dan keterampilan anak namun pembiasaan yang telah lama dibangun dan dididikkan di sekolah menjadi hilang. Disiplin anak berkurang, aktivitas pembelajaran menurun bahkan motivasi belajar mereka menurun drastis.

Naluri keguruanku tidak akan membiarkan hal itu terus terjadi, Kubangun komunikasi dengan wali murid agar membatasi putra putrinya memegang gawai. Mereka menyambut baik langkahku, bahkan mereka sangat berterima kasih karena mereka merasa kewalahan menhadapi anak-anak mereka yang sudah kecanduan gawai dan game online.  

Aku berupaya menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan banyak permainan, lagu, tepuk, di alam terbuka, berkelompok dan menantang. Keahlian yang kumiliki sebagai pelatih dan pembina pramuka benar-benar sangat membantuku menuntaskan persoalan yang kuhadapi.

Kedispilnan anak mulai kuperketat, mereka bisa terkena sangsi tegas bila tak mengerjakan tugas, bolos ataupun tidak masuk tampa keterangan. Dulunya aku hanya memberi sangsi dengan melafalkan istigfar 50 sampai 100x sambil berdiri di teras kelas, kali ini kutambah dengan berjemur di lapangan dan membersihkan kamar mandi sekolah. Semua hal yang kukerjakan ku komunikasikan dengan wali murid bahkan mereka menyambut baik karena mereka juga merasa prihatin dengan kebiasaan anak yang sulit sekali dikontrol saat memegang gaawai.

Ide dengan menerapkan metode yang kerap kali digunakan dalam kepramukaan aku gunakan setiap hari sehingga kelasku menjadi lebih hidup kembali, anak-anak bersemangat angka ketidak hadiran mulai bisa kuminimalisir dan hasil belajar merekapun secara bertahap meningkat sedikit demi sedikit. Aku senang sebagian dari kerja kerasku mulai menampakkan hasil. Geliat perjuanganku di kaki Rinjani akan terus mewarnai hari-hariku.

Cuaca dingin tak akan menghalangi langkah-langkah kecil siswaku untuk berlari dengan gembira menuju sekolah. Mereka adalah alasanku untuk tetap bersemangat mencari cara yang membuat mereka betah bersamaku di sekolah, senang belajar dan mau bekerja keras menggapai cita-cita mereka demi masa depan mereka kelak. “Teruslah bergerak maju nak, gapailah bintang gemintang dilangit biru dengan tangan-tangan mungil kalian. Gurumu akan selalu menunggu dan berharap tentang berita gembira kesuksesanmu”.

 

Lombok Timur, 31 Mei 2022.

   Asrol Uyuni

 

 “Bu Guru!...” suara itu membuatku menoleh ke belakang dan menyambut dengan senyum untaian tangan mungil yang segera mengenggam tanganku erat dan menciumnya sambil meletakknnya diatas ubun-ubun kepalanya. “Mana teman-temanmu yang lain?” tanyaku singkat. “Itu di bawah pohon beringin sedang bermain, tapi Faisal, Runa, Nadira dan Alfin tidak masuk. “Ada apa dengan mereka mengapa tidak ke sekolah?” tanyaku kembali. “ Entahlah bu, temanku Alfin berangkat dari rumah berseragam sekolah kata ibunya, tapi aku tak melihatnya sejak tadi pagi, mungkin masih bermain game di rumah si Satirah” jawab Fajrul si ketua kelas. “waduh, kamu tidak menegur dan mengajakknya ke sekolah? Tanyaku kembali. “ Sudah bu, tapi dia bilang aku bosan harus menunggu ship masuk dan belajarnyapun paling sebentar lalu pulang, jadi mendingan aku main game online saja lebih seru kataya bu”. Kecut rasanya cerita yang kudapat pagi ini. ”Terima kasih atas informasinya, kamu bisa kembali bermain bersama teman-temanmu. “O, ya karena pagi ini ibu dan bapak gurumu akan rapat dan kalianpun sudah bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah maka setengah jam lagi kalian semua akan dipulangkan” arahku sambil melemparkan senyum padanya. “Horeee…pagi pulang teriaknya kegirangan” sambil berlari membawa berita gembira ke arah teman-temannya. Aku melanjutkan langkahku menuju ruang guru.

Sambil melangkahkan kaki aku sedikit mengingat ke belakang, ketika Pandemi Covid 19 memasuki pulau Lombok pada pertengahan tahun 2020 lalu membuat anak-anak praktis tidak belajar. Banyak sekolah ditutup, sehingga anak-anak tidak dapat bersekolah sampai waktu yang tidak jelas. Mereka tidak diizinkan keluar dengan bebas, bepergian jauh untuk menghindari kontak pisik dengan orang luar, menjauhi kerumunan serta selalu memakai masker guna melindungi mereka dari penyebaran virus corona.

Terlalu lama  beraktivitas di rumah membuat mereka enggan keluar dan malas bergerak. Di rumah mereka hanya makan minum, tiduran, nonton televisi dan bermain game dengan gawai. Rata-rata orang tua berupaya mengontrol dan membatasi penggunaaan gawai, namun saat digunakan belajar oleh anak, para orang tua tentu saja memberikan keleluasaan. Momentum ini digunakan sebagian besar siswa untuk mengunduh aplikasi game, tiktok dan bermedia sosial tampa terkontrol. Sementara orang tua menganggap anak-anaknya sedang belajar.  Kondisi ini membuat anak-anak semakin asyik terlena dengan gawainya, terus bermain game online dan berselancar ke dunia maya. Lambat laun rutinitas mengasyikkan ini menjadi candu bagi anak.

Pagi ini aku bertanya pada Rio dan beberapa anak lainnya, mengapa ia tidak pernah mengikuti pembelajaran dengan daring, ia berkata “Aku tak punya HP bu” Kondisi ini tentu saja membuatku berpikir. Apakah yang harus kulakukan untuk membelajarkan mereka. Walaupun hanya 4 orang, mereka berhak untuk belajar seperti yang lainnya di masa pandemi covid 19 ini. Akhirnya aku memutuskan untuk membimbing mereka secara berkelompok. Aku tak mungkin mengelompokkan mereka hanya dengan sesama anak yang tidak memeliki gawai saja karena bagiku itu akan membuat mereka merasa berkecil hati. Aku buat kelas 5 menjadi 4 kelompok kecil berdasarkan tempat domisili terdekat mereka, aku baurkan mereka sehingga bisa belajar bersama dengan gawai temannya. Dengan berkelompok kecil aku bisa mengunjungi mereka secara berkeliling setiap hari tampa melanggar protocol kesehatan. Sementara pembelajaran dengan daringpun bisa tetap kulanjutkan.

Sepotong papan putih melamin, kubawa setiap pagi berkeliling ditiap kelompok yang telah kubentuk. Kadang kami belajar di teras rumah, teras tempat ibadah, ruang tamu, halaman bahkan dekat kandang hewan ternak. Kerap kali aku terbatuk-batuk sambil menjelaskan karena menyengatnya aroma tembakau kering yang disimpan di ruang tamu. Disitu kami belajar berproses berjuang mempertahankan pembelajaran tetap berlangsung walaupun virus mengintai dimana-mana.

Aku pernah mendengar beberapa teman di desa seberang mendapat penolakan dari warga saat berkunjung, orang tua khawatir kami yang datang dari luar desa membawa virus ke desa mereka. Begitu banyak tantangan pendidikan kami hadapi. Namun aku sangat bersyukur walaupun dalam kondisi terbatas, serba tidak kondusif setidaknya setiap wali murid yang aku kunjungi menerimaku dengan tangan terbuka bahkan setiap mengajar mereka menyuguhiku secangkir teh hangat dan makanan ringan.

Pembelajaran tetap dapat terlaksana dengan berbagai kendala yang ada, namun sepertinya aku tidak bisa berharap lebih dari proses yang serba terbatas ini, hasil belajar anak-anak masih saja tidak memuaskanku. Aku sedih, sebagai seorang guru aku merasa gagal, namun bagaimana caraku untuk mengembalikan muridku seperti dulu. Aku merindukan semangat dan kebersamaan yang hangat setiap momentum belajar bersama mereka, tapi pandemi Covid 19 menghalangi kebersamaan kami.

Pandemi terus terjadi, pembelajaran tatap muka terbatas mulai diterapkan. Dan saat ini aku tertegun. Dalam sehari terkadang 5 sampai 6 siswa tidak masuk sekolah, 2 anak bahkan pernah sampai 3 orang membolos pulang lebih cepat karena main bareng game online. Siswa yang masukpun terkesan tidak betah disekolah, “Bu guru kapan pulang?”, “Bu guru cepatan sudah lapar nih.” Dan berbagai alasan yang kerapkali kudengar yang menunjukkan betapa bosannya mereka belajar di sekolah. Aku bingung, dalam benakku aku bertanya apa yang terjadi dengan murid-muridku selama pandemi? Inikah yang disebut mas mentri dengan learning loss?

Learning loss (kehilangan pembelajaran) merujuk pada sebuah kondisi hilangnya sebagian pengetahuan dan keterampilan dalam perkembangan akademis yang biasanya diakibatkan oleh terhentinya proses pembelajaran dalam dunia pendidikan. Akibatnya bukan hanya hilangnya pengetahuan dan keterampilan anak namun pembiasaan yang telah lama dibangun dan dididikkan di sekolah menjadi hilang. Disiplin anak berkurang, aktivitas pembelajaran menurun bahkan motivasi belajar mereka menurun drastis.

Naluri keguruanku tidak akan membiarkan hal itu terus terjadi, Kubangun komunikasi dengan wali murid agar membatasi putra putrinya memegang gawai. Mereka menyambut baik langkahku, bahkan mereka sangat berterima kasih karena mereka merasa kewalahan menhadapi anak-anak mereka yang sudah kecanduan gawai dan game online.  

Aku berupaya menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan banyak permainan, lagu, tepuk, di alam terbuka, berkelompok dan menantang. Keahlian yang kumiliki sebagai pelatih dan pembina pramuka benar-benar sangat membantuku menuntaskan persoalan yang kuhadapi.

Kedispilnan anak mulai kuperketat, mereka bisa terkena sangsi tegas bila tak mengerjakan tugas, bolos ataupun tidak masuk tampa keterangan. Dulunya aku hanya memberi sangsi dengan melafalkan istigfar 50 sampai 100x sambil berdiri di teras kelas, kali ini kutambah dengan berjemur di lapangan dan membersihkan kamar mandi sekolah. Semua hal yang kukerjakan ku komunikasikan dengan wali murid bahkan mereka menyambut baik karena mereka juga merasa prihatin dengan kebiasaan anak yang sulit sekali dikontrol saat memegang gaawai.

Ide dengan menerapkan metode yang kerap kali digunakan dalam kepramukaan aku gunakan setiap hari sehingga kelasku menjadi lebih hidup kembali, anak-anak bersemangat angka ketidak hadiran mulai bisa kuminimalisir dan hasil belajar merekapun secara bertahap meningkat sedikit demi sedikit. Aku senang sebagian dari kerja kerasku mulai menampakkan hasil. Geliat perjuanganku di kaki Rinjani akan terus mewarnai hari-hariku.

Cuaca dingin tak akan menghalangi langkah-langkah kecil siswaku untuk berlari dengan gembira menuju sekolah. Mereka adalah alasanku untuk tetap bersemangat mencari cara yang membuat mereka betah bersamaku di sekolah, senang belajar dan mau bekerja keras menggapai cita-cita mereka demi masa depan mereka kelak. “Teruslah bergerak maju nak, gapailah bintang gemintang dilangit biru dengan tangan-tangan mungil kalian. Gurumu akan selalu menunggu dan berharap tentang berita gembira kesuksesanmu”.

 

Lombok Timur, 31 Mei 2022.

   Asrol Uyuni

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  GELIAT PASCA LEARNING LOSS COVID 19 DI KAKI RINJANI   “Bu Guru!...” suara itu membuatku menoleh ke belakang dan menyambut dengan senyum un...