31 Mei 2022

 GELIAT PASCA LEARNING LOSS COVID 19 DI KAKI RINJANI



 “Bu Guru!...” suara itu membuatku menoleh ke belakang dan menyambut dengan senyum untaian tangan mungil yang segera mengenggam tanganku erat dan menciumnya sambil meletakknnya diatas ubun-ubun kepalanya. “Mana teman-temanmu yang lain?” tanyaku singkat. “Itu di bawah pohon beringin sedang bermain, tapi Faisal, Runa, Nadira dan Alfin tidak masuk. “Ada apa dengan mereka mengapa tidak ke sekolah?” tanyaku kembali. “ Entahlah bu, temanku Alfin berangkat dari rumah berseragam sekolah kata ibunya, tapi aku tak melihatnya sejak tadi pagi, mungkin masih bermain game di rumah si Satirah” jawab Fajrul si ketua kelas. “waduh, kamu tidak menegur dan mengajakknya ke sekolah? Tanyaku kembali. “ Sudah bu, tapi dia bilang aku bosan harus menunggu ship masuk dan belajarnyapun paling sebentar lalu pulang, jadi mendingan aku main game online saja lebih seru kataya bu”. Kecut rasanya cerita yang kudapat pagi ini. ”Terima kasih atas informasinya, kamu bisa kembali bermain bersama teman-temanmu. “O, ya karena pagi ini ibu dan bapak gurumu akan rapat dan kalianpun sudah bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah maka setengah jam lagi kalian semua akan dipulangkan” arahku sambil melemparkan senyum padanya. “Horeee…pagi pulang teriaknya kegirangan” sambil berlari membawa berita gembira ke arah teman-temannya. Aku melanjutkan langkahku menuju ruang guru.

Sambil melangkahkan kaki aku sedikit mengingat ke belakang, ketika Pandemi Covid 19 memasuki pulau Lombok pada pertengahan tahun 2020 lalu membuat anak-anak praktis tidak belajar. Banyak sekolah ditutup, sehingga anak-anak tidak dapat bersekolah sampai waktu yang tidak jelas. Mereka tidak diizinkan keluar dengan bebas, bepergian jauh untuk menghindari kontak pisik dengan orang luar, menjauhi kerumunan serta selalu memakai masker guna melindungi mereka dari penyebaran virus corona.

Terlalu lama  beraktivitas di rumah membuat mereka enggan keluar dan malas bergerak. Di rumah mereka hanya makan minum, tiduran, nonton televisi dan bermain game dengan gawai. Rata-rata orang tua berupaya mengontrol dan membatasi penggunaaan gawai, namun saat digunakan belajar oleh anak, para orang tua tentu saja memberikan keleluasaan. Momentum ini digunakan sebagian besar siswa untuk mengunduh aplikasi game, tiktok dan bermedia sosial tampa terkontrol. Sementara orang tua menganggap anak-anaknya sedang belajar.  Kondisi ini membuat anak-anak semakin asyik terlena dengan gawainya, terus bermain game online dan berselancar ke dunia maya. Lambat laun rutinitas mengasyikkan ini menjadi candu bagi anak.

Pagi ini aku bertanya pada Rio dan beberapa anak lainnya, mengapa ia tidak pernah mengikuti pembelajaran dengan daring, ia berkata “Aku tak punya HP bu” Kondisi ini tentu saja membuatku berpikir. Apakah yang harus kulakukan untuk membelajarkan mereka. Walaupun hanya 4 orang, mereka berhak untuk belajar seperti yang lainnya di masa pandemi covid 19 ini. Akhirnya aku memutuskan untuk membimbing mereka secara berkelompok. Aku tak mungkin mengelompokkan mereka hanya dengan sesama anak yang tidak memeliki gawai saja karena bagiku itu akan membuat mereka merasa berkecil hati. Aku buat kelas 5 menjadi 4 kelompok kecil berdasarkan tempat domisili terdekat mereka, aku baurkan mereka sehingga bisa belajar bersama dengan gawai temannya. Dengan berkelompok kecil aku bisa mengunjungi mereka secara berkeliling setiap hari tampa melanggar protocol kesehatan. Sementara pembelajaran dengan daringpun bisa tetap kulanjutkan.

Sepotong papan putih melamin, kubawa setiap pagi berkeliling ditiap kelompok yang telah kubentuk. Kadang kami belajar di teras rumah, teras tempat ibadah, ruang tamu, halaman bahkan dekat kandang hewan ternak. Kerap kali aku terbatuk-batuk sambil menjelaskan karena menyengatnya aroma tembakau kering yang disimpan di ruang tamu. Disitu kami belajar berproses berjuang mempertahankan pembelajaran tetap berlangsung walaupun virus mengintai dimana-mana.

Aku pernah mendengar beberapa teman di desa seberang mendapat penolakan dari warga saat berkunjung, orang tua khawatir kami yang datang dari luar desa membawa virus ke desa mereka. Begitu banyak tantangan pendidikan kami hadapi. Namun aku sangat bersyukur walaupun dalam kondisi terbatas, serba tidak kondusif setidaknya setiap wali murid yang aku kunjungi menerimaku dengan tangan terbuka bahkan setiap mengajar mereka menyuguhiku secangkir teh hangat dan makanan ringan.

Pembelajaran tetap dapat terlaksana dengan berbagai kendala yang ada, namun sepertinya aku tidak bisa berharap lebih dari proses yang serba terbatas ini, hasil belajar anak-anak masih saja tidak memuaskanku. Aku sedih, sebagai seorang guru aku merasa gagal, namun bagaimana caraku untuk mengembalikan muridku seperti dulu. Aku merindukan semangat dan kebersamaan yang hangat setiap momentum belajar bersama mereka, tapi pandemi Covid 19 menghalangi kebersamaan kami.

Pandemi terus terjadi, pembelajaran tatap muka terbatas mulai diterapkan. Dan saat ini aku tertegun. Dalam sehari terkadang 5 sampai 6 siswa tidak masuk sekolah, 2 anak bahkan pernah sampai 3 orang membolos pulang lebih cepat karena main bareng game online. Siswa yang masukpun terkesan tidak betah disekolah, “Bu guru kapan pulang?”, “Bu guru cepatan sudah lapar nih.” Dan berbagai alasan yang kerapkali kudengar yang menunjukkan betapa bosannya mereka belajar di sekolah. Aku bingung, dalam benakku aku bertanya apa yang terjadi dengan murid-muridku selama pandemi? Inikah yang disebut mas mentri dengan learning loss?

Learning loss (kehilangan pembelajaran) merujuk pada sebuah kondisi hilangnya sebagian pengetahuan dan keterampilan dalam perkembangan akademis yang biasanya diakibatkan oleh terhentinya proses pembelajaran dalam dunia pendidikan. Akibatnya bukan hanya hilangnya pengetahuan dan keterampilan anak namun pembiasaan yang telah lama dibangun dan dididikkan di sekolah menjadi hilang. Disiplin anak berkurang, aktivitas pembelajaran menurun bahkan motivasi belajar mereka menurun drastis.

Naluri keguruanku tidak akan membiarkan hal itu terus terjadi, Kubangun komunikasi dengan wali murid agar membatasi putra putrinya memegang gawai. Mereka menyambut baik langkahku, bahkan mereka sangat berterima kasih karena mereka merasa kewalahan menhadapi anak-anak mereka yang sudah kecanduan gawai dan game online.  

Aku berupaya menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan banyak permainan, lagu, tepuk, di alam terbuka, berkelompok dan menantang. Keahlian yang kumiliki sebagai pelatih dan pembina pramuka benar-benar sangat membantuku menuntaskan persoalan yang kuhadapi.

Kedispilnan anak mulai kuperketat, mereka bisa terkena sangsi tegas bila tak mengerjakan tugas, bolos ataupun tidak masuk tampa keterangan. Dulunya aku hanya memberi sangsi dengan melafalkan istigfar 50 sampai 100x sambil berdiri di teras kelas, kali ini kutambah dengan berjemur di lapangan dan membersihkan kamar mandi sekolah. Semua hal yang kukerjakan ku komunikasikan dengan wali murid bahkan mereka menyambut baik karena mereka juga merasa prihatin dengan kebiasaan anak yang sulit sekali dikontrol saat memegang gaawai.

Ide dengan menerapkan metode yang kerap kali digunakan dalam kepramukaan aku gunakan setiap hari sehingga kelasku menjadi lebih hidup kembali, anak-anak bersemangat angka ketidak hadiran mulai bisa kuminimalisir dan hasil belajar merekapun secara bertahap meningkat sedikit demi sedikit. Aku senang sebagian dari kerja kerasku mulai menampakkan hasil. Geliat perjuanganku di kaki Rinjani akan terus mewarnai hari-hariku.

Cuaca dingin tak akan menghalangi langkah-langkah kecil siswaku untuk berlari dengan gembira menuju sekolah. Mereka adalah alasanku untuk tetap bersemangat mencari cara yang membuat mereka betah bersamaku di sekolah, senang belajar dan mau bekerja keras menggapai cita-cita mereka demi masa depan mereka kelak. “Teruslah bergerak maju nak, gapailah bintang gemintang dilangit biru dengan tangan-tangan mungil kalian. Gurumu akan selalu menunggu dan berharap tentang berita gembira kesuksesanmu”.

 

Lombok Timur, 31 Mei 2022.

   Asrol Uyuni

 

 “Bu Guru!...” suara itu membuatku menoleh ke belakang dan menyambut dengan senyum untaian tangan mungil yang segera mengenggam tanganku erat dan menciumnya sambil meletakknnya diatas ubun-ubun kepalanya. “Mana teman-temanmu yang lain?” tanyaku singkat. “Itu di bawah pohon beringin sedang bermain, tapi Faisal, Runa, Nadira dan Alfin tidak masuk. “Ada apa dengan mereka mengapa tidak ke sekolah?” tanyaku kembali. “ Entahlah bu, temanku Alfin berangkat dari rumah berseragam sekolah kata ibunya, tapi aku tak melihatnya sejak tadi pagi, mungkin masih bermain game di rumah si Satirah” jawab Fajrul si ketua kelas. “waduh, kamu tidak menegur dan mengajakknya ke sekolah? Tanyaku kembali. “ Sudah bu, tapi dia bilang aku bosan harus menunggu ship masuk dan belajarnyapun paling sebentar lalu pulang, jadi mendingan aku main game online saja lebih seru kataya bu”. Kecut rasanya cerita yang kudapat pagi ini. ”Terima kasih atas informasinya, kamu bisa kembali bermain bersama teman-temanmu. “O, ya karena pagi ini ibu dan bapak gurumu akan rapat dan kalianpun sudah bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah maka setengah jam lagi kalian semua akan dipulangkan” arahku sambil melemparkan senyum padanya. “Horeee…pagi pulang teriaknya kegirangan” sambil berlari membawa berita gembira ke arah teman-temannya. Aku melanjutkan langkahku menuju ruang guru.

Sambil melangkahkan kaki aku sedikit mengingat ke belakang, ketika Pandemi Covid 19 memasuki pulau Lombok pada pertengahan tahun 2020 lalu membuat anak-anak praktis tidak belajar. Banyak sekolah ditutup, sehingga anak-anak tidak dapat bersekolah sampai waktu yang tidak jelas. Mereka tidak diizinkan keluar dengan bebas, bepergian jauh untuk menghindari kontak pisik dengan orang luar, menjauhi kerumunan serta selalu memakai masker guna melindungi mereka dari penyebaran virus corona.

Terlalu lama  beraktivitas di rumah membuat mereka enggan keluar dan malas bergerak. Di rumah mereka hanya makan minum, tiduran, nonton televisi dan bermain game dengan gawai. Rata-rata orang tua berupaya mengontrol dan membatasi penggunaaan gawai, namun saat digunakan belajar oleh anak, para orang tua tentu saja memberikan keleluasaan. Momentum ini digunakan sebagian besar siswa untuk mengunduh aplikasi game, tiktok dan bermedia sosial tampa terkontrol. Sementara orang tua menganggap anak-anaknya sedang belajar.  Kondisi ini membuat anak-anak semakin asyik terlena dengan gawainya, terus bermain game online dan berselancar ke dunia maya. Lambat laun rutinitas mengasyikkan ini menjadi candu bagi anak.

Pagi ini aku bertanya pada Rio dan beberapa anak lainnya, mengapa ia tidak pernah mengikuti pembelajaran dengan daring, ia berkata “Aku tak punya HP bu” Kondisi ini tentu saja membuatku berpikir. Apakah yang harus kulakukan untuk membelajarkan mereka. Walaupun hanya 4 orang, mereka berhak untuk belajar seperti yang lainnya di masa pandemi covid 19 ini. Akhirnya aku memutuskan untuk membimbing mereka secara berkelompok. Aku tak mungkin mengelompokkan mereka hanya dengan sesama anak yang tidak memeliki gawai saja karena bagiku itu akan membuat mereka merasa berkecil hati. Aku buat kelas 5 menjadi 4 kelompok kecil berdasarkan tempat domisili terdekat mereka, aku baurkan mereka sehingga bisa belajar bersama dengan gawai temannya. Dengan berkelompok kecil aku bisa mengunjungi mereka secara berkeliling setiap hari tampa melanggar protocol kesehatan. Sementara pembelajaran dengan daringpun bisa tetap kulanjutkan.

Sepotong papan putih melamin, kubawa setiap pagi berkeliling ditiap kelompok yang telah kubentuk. Kadang kami belajar di teras rumah, teras tempat ibadah, ruang tamu, halaman bahkan dekat kandang hewan ternak. Kerap kali aku terbatuk-batuk sambil menjelaskan karena menyengatnya aroma tembakau kering yang disimpan di ruang tamu. Disitu kami belajar berproses berjuang mempertahankan pembelajaran tetap berlangsung walaupun virus mengintai dimana-mana.

Aku pernah mendengar beberapa teman di desa seberang mendapat penolakan dari warga saat berkunjung, orang tua khawatir kami yang datang dari luar desa membawa virus ke desa mereka. Begitu banyak tantangan pendidikan kami hadapi. Namun aku sangat bersyukur walaupun dalam kondisi terbatas, serba tidak kondusif setidaknya setiap wali murid yang aku kunjungi menerimaku dengan tangan terbuka bahkan setiap mengajar mereka menyuguhiku secangkir teh hangat dan makanan ringan.

Pembelajaran tetap dapat terlaksana dengan berbagai kendala yang ada, namun sepertinya aku tidak bisa berharap lebih dari proses yang serba terbatas ini, hasil belajar anak-anak masih saja tidak memuaskanku. Aku sedih, sebagai seorang guru aku merasa gagal, namun bagaimana caraku untuk mengembalikan muridku seperti dulu. Aku merindukan semangat dan kebersamaan yang hangat setiap momentum belajar bersama mereka, tapi pandemi Covid 19 menghalangi kebersamaan kami.

Pandemi terus terjadi, pembelajaran tatap muka terbatas mulai diterapkan. Dan saat ini aku tertegun. Dalam sehari terkadang 5 sampai 6 siswa tidak masuk sekolah, 2 anak bahkan pernah sampai 3 orang membolos pulang lebih cepat karena main bareng game online. Siswa yang masukpun terkesan tidak betah disekolah, “Bu guru kapan pulang?”, “Bu guru cepatan sudah lapar nih.” Dan berbagai alasan yang kerapkali kudengar yang menunjukkan betapa bosannya mereka belajar di sekolah. Aku bingung, dalam benakku aku bertanya apa yang terjadi dengan murid-muridku selama pandemi? Inikah yang disebut mas mentri dengan learning loss?

Learning loss (kehilangan pembelajaran) merujuk pada sebuah kondisi hilangnya sebagian pengetahuan dan keterampilan dalam perkembangan akademis yang biasanya diakibatkan oleh terhentinya proses pembelajaran dalam dunia pendidikan. Akibatnya bukan hanya hilangnya pengetahuan dan keterampilan anak namun pembiasaan yang telah lama dibangun dan dididikkan di sekolah menjadi hilang. Disiplin anak berkurang, aktivitas pembelajaran menurun bahkan motivasi belajar mereka menurun drastis.

Naluri keguruanku tidak akan membiarkan hal itu terus terjadi, Kubangun komunikasi dengan wali murid agar membatasi putra putrinya memegang gawai. Mereka menyambut baik langkahku, bahkan mereka sangat berterima kasih karena mereka merasa kewalahan menhadapi anak-anak mereka yang sudah kecanduan gawai dan game online.  

Aku berupaya menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan banyak permainan, lagu, tepuk, di alam terbuka, berkelompok dan menantang. Keahlian yang kumiliki sebagai pelatih dan pembina pramuka benar-benar sangat membantuku menuntaskan persoalan yang kuhadapi.

Kedispilnan anak mulai kuperketat, mereka bisa terkena sangsi tegas bila tak mengerjakan tugas, bolos ataupun tidak masuk tampa keterangan. Dulunya aku hanya memberi sangsi dengan melafalkan istigfar 50 sampai 100x sambil berdiri di teras kelas, kali ini kutambah dengan berjemur di lapangan dan membersihkan kamar mandi sekolah. Semua hal yang kukerjakan ku komunikasikan dengan wali murid bahkan mereka menyambut baik karena mereka juga merasa prihatin dengan kebiasaan anak yang sulit sekali dikontrol saat memegang gaawai.

Ide dengan menerapkan metode yang kerap kali digunakan dalam kepramukaan aku gunakan setiap hari sehingga kelasku menjadi lebih hidup kembali, anak-anak bersemangat angka ketidak hadiran mulai bisa kuminimalisir dan hasil belajar merekapun secara bertahap meningkat sedikit demi sedikit. Aku senang sebagian dari kerja kerasku mulai menampakkan hasil. Geliat perjuanganku di kaki Rinjani akan terus mewarnai hari-hariku.

Cuaca dingin tak akan menghalangi langkah-langkah kecil siswaku untuk berlari dengan gembira menuju sekolah. Mereka adalah alasanku untuk tetap bersemangat mencari cara yang membuat mereka betah bersamaku di sekolah, senang belajar dan mau bekerja keras menggapai cita-cita mereka demi masa depan mereka kelak. “Teruslah bergerak maju nak, gapailah bintang gemintang dilangit biru dengan tangan-tangan mungil kalian. Gurumu akan selalu menunggu dan berharap tentang berita gembira kesuksesanmu”.

 

Lombok Timur, 31 Mei 2022.

   Asrol Uyuni

 

24 Mei 2022

 "Ke Jakarta Aku Kan Kembali"

Penggalan lagu Klus Plus kudendangkan sambil menulis tantangan dari pengurus komunitas Perkumpulan Penulis Motivator Nasional (PPMN).  Ini perjalanan ketigaku namun sebagian hatiku sepertinya sudah berada disana, bertemu dan berkumpul bersama orang-orang hebat yang mau dan selalu bersemangat untuk menghebatkan orang lain, termasuk seperti diriku yang masih sangat  awam dengan dunia tulis menulis. 
Semangat itulah yang masih terasa sejak pertama kali aku memutuskan bergabung dengan komunitas ini. Saat ini aku hanya memilki modal semangat dan kemauan yang kuat untuk belajar, karena prinsip belajarku "Bintang yang jauh tinggi saja bisa dipelajari orang apalagi sesuatu yang ada didepanku".

Bismillah kukuatkan tekat tuk berangkat kesana walaupun aku tahu konsekuensi didepanku, mengharuskanku untuk tetap aktif menulis, belajar sepanjang hayat dan bekerja keras bersama rekan- rekan yang lain untuk mengembangkan khazanah keilmuan dan kompetensi diri pribadi dan orang lain guna memajukan dunia literasi Indonesia.
Ini bisa jadi menjadi jawaban dari keprihatinanku tentang rendahnya minat dan daya baca  siswa maupun masyarakat disekitarku. 

Rasanya, ke Jakarta dan bergabung bersama komunitas PPMN, akan memotivasiku serta menjadi cambuk bagiku  untuk "Bergerak-menggerakkan" dan "Hebat- menghebatkan", agar aku terbangun dari tidur panjangku bahwa sudah saatnya berbuat dan merealisasikan mimpiku yang tertunda, ya aku ingin menjadi seseorang yang meninggalkan jejak penaku melalui karya tulis yang disukai dan bermanfaat bagi banyak orang.

Aku sadar, diriku hanya sebutir debu diatara kokohnya batu-batu cadas raksasa yang telah tangguh  dan tegar bediri walaupun   telah dihantam ombak berkali-kali. Namun,  ke Jakarta adalah momentum  awalku dan menjadi pilihan untuk  melangkah menempuh jalanku selanjutnya. Semoga Tuhan merestuinya, Aamiin.
Salam literasi. Selong, 25052022.


26 April 2022

 

Alam Manusia                                                                Selong, 15-12-21

                                                     Buah pena:  Asrol Uyuni

 

 

Menjadi manusia bukan pilihan

Menjadi manusia adalah taqdir

Menjadi manusia adalah kepercayaan

Menjadi manusia adalah amanat

                Manusia adalah makhluk desain Sang Pencipta

                Sempurna namun penuh noktah cela

                Sarang lupa dan dahaga akan harta, tahta dan hawa

                Kemanusiaanku terbungkus tulus dan sabar

                Bila rasa itu hanyut maka yang tersisa hanyalah durga

Seberkas sinar Ia titipkan dalam qolbu

Menerangi setiap langkah dalam gulitaku

KasihNya mendampingi sepanjag hayatku

SayangMu adalah asaku tak ingin terpisah

Sampai jasad berkalang tanah

Menuai menuai….hitam dan putih…

Buah kehidupan

 

 Bersamamu                                           Selong, 30-05-2021

Saat itu…

Bagiku bersamamu adalah anugrah

Kehadiranmu adalah amanah

Tapi akhirnya…

Ternyata semua adalah amarah

Hingga, aku berkata sang pander berkata

Membersamaimu adalah suatu keniscayaan

Karena kamu hanyalah mimpi disiang hari

Yang akan hilang sesaat setelah terbangun.

 

Saat itu…

Bagiku bersamamu adalah anugrah

Kehadiranmu adalah amanah

Tapi akhirnya…

Ternyata semua adalah amarah

Hingga, aku berkata sang pander berkata

Membersamaimu adalah suatu keniscayaan

Karena kamu hanyalah mimpi disiang hari

Yang akan hilang sesaat setelah terbangun.

 

 BUMIKU MEMANG SUDAH TAK LUGU LAGI

By: Asrol Uyuni                                                                                 050821

 

Ada tanya dalam setiap benak manusia

Benarkah ini realita?

Atau sekedar rekayasa?

Wabah dijadikan ajang menjadi kaya

Ajang mencari muka

Ajang memanfaatkan sengsara

Memanipulasi data demi tujuan semata

Tuhanku…

Ketika kejujuran tandus dimakan cuaca

Ketika harapan gersang tak berasa

Akankah oase kehidupan muncul di tegah gurun ketidakpastian?

Menyapu badai kepalsuan bumiku yang kini sudah tak lugu lagi.

 

 DIAMKU

By. Asrol Uyuni                                                                                    Selong, 280921

Gunung menyapaku dengan tawa riangnya

Lembah mengingatkanku dengan curamnya

Tanah lapang membuaiku dengan semilir angin sejuk yang membuatku tak bergerak

Hanya diam

 “Diam”

Terinjak kuda-kuda kehidupan yang berlari kencang

Gerakanku membimbingku menuju jalanMu.

 

 LENTERAKU                                                                                15-03-2022

Imanku adalah lenteraku

Yang selalu, bersamaku

Menemaniku kemanapun kakiku melangkah

Arus utara terkadang memaksaku berenang kearah selatan

Dan arus selatan mengarahkanku berenang kearah utara

Aku hanya sedang tersesat kawan

            

 

24 April 2022

SERUNYA BELAJAR MEMBUAT BLOG SENDIRI

 SERUNYA BELAJAR 
MEMBUAT BLOG SENDIRI


Bismillah...

Pagi itu di sekolah, 23 April 2022, seorang teman baik tiba-tiba mengirim sebuah formulir pendaftaran pelatihan dasar membuat blog. Entah semangat dari mana, tanpa ragu jariku seperti diarahkan untuk mendaftar dan belajar bersama rekan-rekan yang sudah tergabung sebelumnya. Ini berbayar, sedangkan aku tak memiliki alat pembayaran elektronik dan ATMpun tertinggal di rumah. Untungnya ada seorang teman yang bersedia menggunakan E-bankingnya untuk mentranfer biaya pendaftaran. Aku tersenyum, alhamdulillah langkah yang kupilih dilancarkanNya.

Hari pertama di kelas, masih bingung dan penasaran, namun pak Raimundus Brian Prasetyawan, S. Pd selaku nara sumber membimbing dengan kesabaran. masih malu-malu untuk bertanya di WA grub, akhirnya kuputuskan untuk menggunakan jalur pribadi dan beliau sangat membantu proses belajarku.

Pada tahap awal nara sumber mulai memperkenalkan diri, menyampaikan pengantar dan materi yang berisi tentang, pengertian blog, bagian-bagian blog sampai pada cara pembuatan blog.

Dengan kekuatan 100 watt kumulai membuat blog sendiri dengan nama AKADEMIA dan aku sangat tertarik dengan label pendidikan. Aku berpikir disitulah hidupku dan aku berkeinginan banyak menulis tentang itu. Dipandu modul yang diberikan dan bimbingan online dari pak Brian akupun mulai menulis blog pertamaku, namun untung tak dapat diraih dan malangpun tak dapat diduga. Hari kedua sebuah berita duka menghentikan langkahku hari itu. Aku sedang berduka disaat persiapan acara buka bersama putri sulungku. Undangan telah disebar dan takmungkinlah bagiku membatalkannya. Semua kerabatku berangkat ke Mataram untuk mengucapkan rasa bela sungkawa dan menghadiri pemakaman suami sepupuku yang wafat karena tertabak mobil dam. Saat berduka akupun menjadi sangat sibuk karena harus menyiapkan acara ulang tahun sendirian dan hanya dibantu anak-anak. Akhirnya terpaksalah pelajaran menulis blogku tertunda, dan terbayar dengan suksesnya penyelenggaraan acara ulang tahun putriku.

Hari ketiga ini, aku harus mengejar ketertinggalanku dari teman-teman yang lainnya. Tulisa pertamaku harus terpublikasikan, dan aku optimis bahwa walaupun berjalan dengan merangkak aku kesulitan tapi aku masih bisa melangkahkan kakiku dengan berlari...ups ketinggian ya? tapi bagiku bintang dikejauhan sana bisa dipelajari orang apalagi sesuatu yang nampak didepanku.

Bismillah...Go...Go...Go...Asrol Uyuni "kamu bisa".  

 

  GELIAT PASCA LEARNING LOSS COVID 19 DI KAKI RINJANI   “Bu Guru!...” suara itu membuatku menoleh ke belakang dan menyambut dengan senyum un...